Minggu, 17 Oktober 2010

Belajar Bahasa Arab

Belajar Bahasa Arab

Aku Ingin Pulang...


Kamis, 02-09-2010 13:54:37 oleh: Benget S. Simanullang
Kanal: Sastra


Aku ingin pulang. Seperti yang dilakukan orang-orang di saat menjelang lebaran. Aku rindu akan kampung halaman. Rindu kepada ibu, ayah, kakak, adik serta saudara-saudara yang kutinggalkan enam tahun yang lalu. Di kampung.
Mas, bagaiamana kehidupan di Jakarta? Kalo aku ndak salah tiap lebaran Mas Parto pulang toh ke kampung?”
“Yah, begitulah Din. Tapi yang jelas di Jakarta jauh lebih banyak kesempatan dari pada di kampung ini. Di sana apapun bisa kita kerjakan. Dan mendapatkan duit. Itu toh yang kita harapkan?”
Mas Parto sembari membuka dompet dan membayarkan kopi yang barusan kami teguk di warung dekat sungai, tempat di mana setiap pemuda berkumpul, apalagi di musim lebaran seperti ini. Para perantau akan menunjukkan taringnya masing-masing di sana, dengan berbagai gaya, entah itu kesombongan, atau hanya karena pola kehidupan dan tingkah laku yang sudah berubah setelah menjadi penghuni kota metropolitan, Jakarta. Mas Parto turut membayar kopi yang aku teguk pagi ini.
“Wah, terima kasih banyak telah membayar kopi saya, Mas.”
“Ndak usah terlalu begitu. Klo di Jakarta mah itu hal kecil.”
Kesombongan mulai tampak. Tapi walaupun demikian, aku semakin tertarik untuk mencoba ke Jakarta. Aku semakin terperangkap dengan apa yang Mas Parto utarakan mulai dari tadi pagi kami memesan kopi bersama, hingga waktu memisahkan kami. Aku harus ke ladang untuk membersihkan sebidang tanaman singkong, sedangkan Mas Parto akan pergi ke tempat di mana orang-orang berduit memanjakan diri mereka. Oh… alangkah nikmat hidup mereka. Akau semakin ingin ke Jakarta. Seperti Mas Parto yang hanya dengan modal nekat. Tanpa ijazah!
***
Kira-kira tiga hari kemudian aku bertemu lagi dengan Mas Parto, di warung kopi yang sama. Dengan gaya yang jauh berbeda dengan pemuda-pemuda kampung, dia bergabung bersama kami. Seperti biasa, dia akan membayar semua pesanan untuk kami, pemuda kampung yang hanya tinggal di kampung, yang di matanya tidak memiliki uang banyak. Memang benar, kami hanya memiliki uang pas-pasan. Namanya juga di kampung. Pendapatan tidak seberapa. Paling seminggu sekali mendapat uang dari hasil jerih payah yang sangat melelahkan satu minggu ini, dari hari Senin sampai Sabtu. Itupun hanya lembaran-lembaran puluhan ribu.
“Din…” Mas Parto mendekat ke arahku sesaat setelah teman-teman yang lain sudah pada meninggalkan warung, menuju ladang tempat mengais rezeki.
“Iya, Mas Parto!” kulihat di matanya ada sesuatu yang hendak disampaikan. Entah apa. Aku tinggal menunggu mulutnya terbuka untuk menyampaikan tujuannya.
“Kamu ndak bosan begini terus di kampung???”
“Maksud Mas Parto ini apa toh?”
“Sampai kapan kamu akan seperti ini, Din? Apa kamu ndak ada niat merantau?”
“Ke mana Mas?”
“Yah ke Jakarta-lah! Di sana kamu ini bisa ngapain aja, dan semuanya bisa jadi duit, Din. Bukan kayak di sini, kamu tiap hari kerja tapi upahmu hanya dua puluh ribu sehari. Apa kamu pikir itu cukup untuk hidup kamu kelak? Kamu masih muda loh Din. Masa mudamu ini jangan disia-siakan. Mumpung masih muda kamu harus kerja keras buat masa depan.”
Mendengar perkataan Mas Parto aku semakin yakin kalau dia adalah seorang yang sukses di tanah rantau, Jakarta. Aku semakin ingin mengikuti jejaknya. Sebab aku tahu siapa Mas Parto yang dulu. Hanya seorang lulusan SMP dengan nilai yang pas-pasan. Tapi di mataku sekarang dia telah berubah menjadi seorang yang sukses. Entah apa pekerjaannya di Jakarta, yang jelas secara implisit dia selalu menggambarkan bahwa Jakarta memberi dia segudang kesempatan untuk meraih uang, suatu bentuk riil yang selalu dicari manusia.
Uang adalah segalanya. Jika orang tidak memiliki uang, niscaya mereka dapat melakukan apapun. Dengan uang segala sesuatu yang mereka inginkan dengan segera akan terkabulkan. Segalanya. Ingin bepergian, harus ada uang. Ingin beli sesuatu, harus ada uang. Bahkan di Jakarta, untuk kencing sekalipun, harus ada uang. Karena itu uang sangat berpengaruh dan manusia akan melakukan apapun demi mendapatkan uang.
Di TV, menjelang hari lebaran banyak diberitakan pencurian-pencurian dengan berbagai modus. Pengakuan mereka karena ingin membeli perlengkapan lebaran, tapi karena tidak mempunyai uang mereka nekat untun mencuri. Mereka rela menodai kesucian puasanya, yang telah mereka mulai dari awal puasa, satu bulan yang lalu, dan harus dikotori sesaat menjelang hari kemenangan yang fitri.
Ada juga yang berpura-pura membuka koperasi simpanan untuk persiapan lebaran. Orang yang tidak mengerti dan tidak menaruh curiga akan tindak kejahatan, mereka rela dan bersedia menjadi nasabah dengan diiming-imingi semua uang beserta bunganya akan diserahkan menjelang lebaran tiba. Antusiasme para calon nasabah terlebih karena ada ‘bunga’ yang akan diterima, lumayan besar, dalam waktu yang sangat singkat. Cerdas juga orang yang memulai usaha (penipuan) itu. Dan para nasabah-pun akhirnya tertipu. Uang mereka dari yang nominalnya kecil samapi besar, dibawa kabur oleh si pengelola yang tidak bertaggung jawab itu. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan dengan demikian, dia telah menodai kesucian ramadhan.
Itu semua modus demi mendapatkan keuntungan sekejap tanpa memikirkan apa yang akan terjadi. Mereka melakukan itu karena tidak memiliki uang dan demi mendapatkan uang. Jadi, benar ungkapan yang mengatakan bahwa uang itu adalah segalanya.
“Kenapa kamu tiba-tiba berpikiran hendak merantau ke Jakarta, Udin?”
Si Mak dengan nada yang agak keberatan menginterogasi aku.
“Lebih baik kamu di sini saja bantu-bantu Mak kerja di kebon. Lagian Mak udah tua, dan butuh teman untuk mendampingi Mak. Bapakmu juga sudah sakit-sakitan. Mbakmu sudah pada kawin semua, hanya kamu yang tinggal yang kami harapkan bisa menjaga kami di sini. ”
“Udin mau cari uang yang banyak, Mak! Di Jakarta tempatnya!”
“Jakarta itu kejam, Din. Kalau kamu ndak punya apa-apa, kamu ndak bakalan dipake di sana. Dulu sudah banyak teman Mak yang terpaksa dipulangkan sama pemerintah karena di Jakarta tidak kerja. Mereka jadi pengemis dan pemulung. Ada yang jadi pengamen, ada yang jadi copet, ada juga yang jadi pelacur! Itu semua tidak mereka inginkan tapi keadaanlah yang membuat begitu anakku. Mak takut kamu juga akan menjadi seperti mereka jika kamu bersikeras pergi ke Jakarta untuk merantau.”
“Tapi Mas Parto bilang kalau di Jakarta kita bisa cepat mendapat uang, Mak! Udin juga ingin seperti Mas Parto. Punya banyak uang dan bisa membahagiakan ibu-bapaknya. Udin juga ingin buat Mak bahagia.”
“Mak sudah bahagia kalau bisa melihat kamu di samping Mak. Bagi Mak, uang bukan segalanya, Din. Kebahagian itu tidak diukur dengan uang.”
Mak menarik napas panjang.
“Kamu tidak lulus SMA, Din. Kamu hanya punya ijazah SMP. Di Jakarta sudah banyak yang sarjana. Pasti mereka lebih diutamakan untuk bekerja dari pada orang yang hanya lulusan SMP kayak kamu. Dan kamu harus tau, di Jakarta banyak sarjana yang menganggur, Udin.”
“Tapi Mas Parto juga hanya lulus SMP kan , Mak? Kenapa dia bisa sukses?”
“Kamu tau apa pekerjaan Parto yang sebenarnya di Jakarta? Dia pernah cerita tentang pekerjaannya?”
Aku menggeleng. Memang selama ini Mas Parto tak pernah ngasih tau apa pekerjaannya di Jakarta. Dia hanya menceritakan bahwa Jakarta lahan uang yang bisa membuat orang cepat kaya. Dia tidak pernah menceritakan kesusahan-kesusahan yang ada di sana.
“Di Jakarta kamu kerja apa, Mas Parto?”
Aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. Aku hanya ingin tahu saja.
Mas Parto terdiam. Dia memandangiku dengan tatapan tajam. Aku takut dia marah karena pertanyaanku itu.
Benarkah dia marah???
Aku agak merasa tenang setelah dia akhirnya tersenyum. Aku kini bisa bernapas lega. Sebab Mas Parto adalah seorang yang pemarah. Jika dia tidak senang dia akan memukul siapapun yang ada di dekatnya. Mungkin itu sudah diturunkan atas dirinya. Tapi yang jelas ibu-bapaknya tidak menyerupai karakter Mas Parto. Mungkin dari nenek atau kakeknya. Bahkan waktu SD dia pernah melemparkan penghapus papan tulis ke guru yang menuding dia sebagai tukang bolos dan tidak tahu apa-apa dalam pelajaran. Dan masih banyak kelakuan-kelakuan dia yang tidak terpuji sehingga harus berpindah-pindah sekolah. Karena itulah kami bisa sekelas dari kelas enam sampai lulus SMP, padahal rentang usia kami berkisar empat tahun. Intinya, dia seorang pemarah dan keras kepala.
“Kerjaan saya banyak, Din! Kamu akan kelak tau kalau sudah ada di Jakarta.”
Mas Parto tidak mau memberitahukan apa sebenarnya pekerjaannya di Jakarta. Yang jelas dia sibuk dengan pekerjaan yang banyak. Itu yang terlontar dari mulutnya. Apa dan bagaimana bentuk pekerjaan itu belum bisa tergambar di benakku sebab tidak ada gambaran yang dia lontarkan entah berprofesi sebagai apa.
***
Tahun 2003 aku tiba di kota Jakarta. Bersama Mas Parto yang telah menjanjikan banyak hal dan membuat aku seolah terhipnotis dengan cerita-cerita yang dia bacakan sewaktu masih di kampung. Bermodalkan seratus tujuh lima puluh ribu rupiah dan tentu dengan ijazah SMP, aku merantau ke Jakarta. Diberangkatkan dengan isak tangis Mak dengan ketidaksetujuannya atas keputusanku ini untuk mencari makan di kota orang, Jakarta.

Aku selalu ikut ke mana Mas Parto melangkah. Mulai dari stasiun Gambir hingga ke sebuah perkampungan yang jauh lebih menyedihkan dari pada kampung halamanku yang telah aku tinggalkan demi secerca harapan yang selalu menyibak pertanyaan, apakah bisa terwujud. Entah sampai kapan. Yang jelas suatu pertanda bahwa sekarang aku telah jauh dari Mak dan harus bisa mandiri di kota, yang kata Mak sangat kejam. Jakarta, apa yang bakal terjadi denganku???
Kami tiba di suatu tempat. Di sana sudah banyak orang yang tiduran dan sebagian hilir mudik entah sedang melakukan apa.
Tempat apa ini?
Di mana rumah Mas Parto?
Di sini?
Bukan! Ini bukan rumah.
“Ayo masuk!” Bagaikan tuan rumah yang baik dan ramah, Mas Parto membukakan pintu buat tamunya. Tapi saat ini tak ada pintu yang dibuka sebab tempat itu bagaikan ruang hampa tanpa pintu. Lembab dan tak bersahabat.
Ini adalah tahun ke enam aku tinggal di sini. Tak pernah pulang ke kampung bahkan saat Mak meninggal karena penyakit ganas yang dideritanya jauh sebelum aku meninggalkannya sendirian. Selama enam tahun ini aku menghabiskan waktu dengan bekerja. Memulung dari satu tempat ke tempat lain. Tak ada yang menerima aku bekerja seperti yang pernah Mak katakan sewaktu aku masih bersamanya, di kampung. Memang benar, para sarjana yang bahkan lulus dengan predikatcum laude masih banyak yang menganggur. Dari satu perusahaan ke perusahaan lain telah aku coba, dan tak satupun yang mau menerima aku. Dan koneksi juga tidak punya. Seandainya ku punya koneksi, aku yakin akan bisa bekerja sesuai dengan yang aku harapkan. Sebab sadar atau tidak sadar, budaya nepotisme masih merajalela di negeri ini. Entah sampai kapan.
Tak seberapa uang yang aku hasilkan dari pekerjaan itu. Hanya cukup makan dan minum dalam satu hari. Dan terkadang aku harus ngutang agar bisa bertahan hidup sampai detik ini. Aku mengerjakan pekerjaan yang di mata orang lain mungkin nista, tapi halal bagiku, sebab aku tak mau mengikuti jejak Mas Parto.
Lima bulan yang lalu Mas Parto ditangkap polisi karena dia membunuh seorang gadis yang tidak mau menyerahkan sejumlah uang dan perhiasannya saat gadis itu pulang dari tepat kerjanya. Ternyata dia seorang pencopet. Dan tidak segan membunuh jika ada yang menghalangi niatnya. Sudah sering dia membunuh dan baru kali ini ketahuan. Penjara menjadi rumahnya. Jauh lebih bagus dari rumah kami yang terdahulu, yang hingga kini masih aku tempati untuk bersinggah dari teriknya mentari di siang hari dan basah di waktu hujan meski tetap bocor terdapat di sana-sini. Inilah tempatku sekarang di Jakarta, kota idaman setiap orang mencari sesuap nasi, mulai dari orang berdasi hingga orang yang mendorong gerobak. Kota penuh teka-teki yang mampu menghalalkan segala cara oleh setiap orang yang merasa kalah dalam persaingan. Terjadilah kekerasan, penindasan hingga para konglomerat dan penguasa negeri ikut ambil andil dalam pemerasan, itulah korupsi. Bahkan yang memberantas korupsi, ikut korupsi. Mereka terjebak ke dalam karung yang hendak mereka bersihkan dari tikus-tikus yang memiliki gigi tajam membocori karung, sehingga mereka menjadi bagian dari tikus itu.
Sudah enam tahun aku di sini. Di Jakarta. Tanpa harapan bisa hidup menjadi lebih sejahtera. Mungkin ini adalah suratan takdir yang diberikan sang Khalik padaku. Namun sebelum kembali pada-Nya, hanya satu keinginanku yang sudah lama aku pendam dalam kemelaratan jiwa, yang entah kapan bisa aku penuhi.
Aku ingin pulang…
Dalam keheningan senja sebuah kamar kost
Ramadhan yang fitri
Jakarta, September 2009

Subhaanallaah...

Di atas Langit selatan,
bintang-gemintang memajang menyihir setiap mata memandang...

Bak dinding istana khayangan,
menabur menata untai berlian,
naluriku takjub dalam
rasa ketawadhuan,

tiada setara ucapan,
selain dzikir kesyukuran...
Menyalin percikan kesejukan, semaian Sang Maha pemilik Keindahan...

Sabtu, 16 Oktober 2010

Katanya......

Katanya...karang itu tegar nan kuat...
Namun...tanpa ombak,manalah ditau?

Katanya...beton itu kokoh nan padat...
Namun...tanpa guncangan,manalah terbukti?

Katanya...purnama itu indah dan bersinar...
Namun...tanpa gelap malam,manalah terlihat?

Katanya...air itu segar nan sejuk...
Namun...tanpa dahaga,manalah nyata?

Katanya...
Manusia itu ada yg bertakwa lagi beriman...
Namun...tanpa cobaan, manalah nampak?

Tidakkah kau rindu Ibu, nak..

May 20th, 2010 by catur
Malam ini, kembali ibu bertanya.
“Cepatlah pulang, Anakku! Benarkah kau bertambah cantik?
Adakah kulitmu sudah putih? Masihkah kau suka memelihara
rambut panjangmu? Masihkah kau memakai kerudungmu?
Bibirmu masih bebas lipstik kan, Nak?”
Kujawab pertanyaan ibu dengan senyuman yang disertai tangisan.
“Ibu, Tuhan selalu menjagaku”.
Aku tertegun.
Terakhir kulihat binar matamu, ketika ku kenakan kebaya dan toga saat wisudaku. Dan seulas sedih rautmu saat ku putuskan pergi ke kota ini.
Terakhir ku cium lembut dan ku basahkan dengan titik air mata punggung tanganmu.
“Ibu… aku masih Rindu, aku masih betul-betul rindu!”
Suara parau itu kembali terdengar.
“Nak, berapa kali kita bertemu? Paling satu tahun sekali.”
Ibu, semoga waktu masih menjadi milik kita.
Ijinkan aku mencium punggung tanganmu, kerut dahimu.
Dan membelai lembut rambut putihmu.
Aku terdiam dan sedikit tertawa.
Ibu, aku rindu pada teduh sorot matamu, pada setiap ikhlas mu..
”Nanti bu, mungkin tahun depan aku akan pulang…”

CONTOH PAPER 1

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang


Persaingan di era globalisasi mengarah pada semakin ketatnya persaingan di sektor industri. Daya saing tidak lagi ditentukan oleh keberadaan kekayaan alam, modal, atau aset berwujud, melainkan juga berdasarkan kemampuan untuk melaksanakan perencanaan yang matang, penguasaan pengetahuan dan teknologi, dan pola, metode serta proses kerja yang yang berdaya dan berhasil guna.
Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusianya sendiri beserta dengan atribut-atributnya uniknya dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunol, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi.
Karenanya, pengembangan industri nasional khususnya Industri Kecil Menengah(IKM) perlu memperhatikan dimensi pembangunan inovasi manajemen dan teknologi, pembangunan infrastruktur ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia secara terpadu dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan di sector industri.
B. Rumusan Masalah

1. Masalah-masalah dalam industri pembuatan kue kering
2. Bagaimana mengatasi masalah dalam industri kue kering?
C. Tujuan

1. Untuk mengetahui masalah-masalah dalam industri pembuatan kue kering
2. Untuk mengetahui langkah-langkah mengatasi masalah dalam industri pembuatan kue kering.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Masalah-Masalah Dalam Industri Kue Kering


Kue kering merupakan hasil olahan industri yang bisa dikatakan maju di daerah SIDRAP dan banyak disukai oleh masyarakat. Meskipun kue kering banyak disukai konsumen namun kue kering ini masih banyak tidak dikenal para konsumen karena kurangnya perhatian dari pihak terkait untuk membantu mengembangkannya sehingga industri kue kering pun bisa dikatakan belum bisa menembus pasar luar hanya bersifat local oleh produsen.
Selain masalah tersebut masalah yang dihadapi produsen lebih banyak berurusan dengan kemamapan sumber daya manusia dalam mengelola kue kering Sumber daya manusia merupakan faktor sentra dalam suatu industri. Padahal apa pun bentuk serta tujuannya suatu industri dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan pelaksanaan misinya diurus dan dikelola oleh manusia itu sendiri.
Di sisi lain masalah yang dihadapi oleh industri kue kering yaitu kemampuan manajemen usaha yang bisa dikatakan belum profesional. Seperti dalam pengolahan pembukuan keuangan, kebanyakan mereka belum bisa mengatur yang mana modal, harta, pemasukan dan pengeluaran sehingga membuat mereka bingung. Selain itu, keterampilan dalam menggunakan alat dan pengetahuan tentang teknologi masih kurang. Sehingga produk yang dihasilkan masih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan menggunakan alat yang lebih modern yang produksinya jauh lebih banyak jumlahnya dan lebih menarik.
B. Pendekatan Masalah

Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang ditentukan. Manusia merpakan faktor penentu dalam kemajuan zaman. Hal tersebut harus diakui karena perkembangan dunia sekarang ini adalah hasil dari pemikiran manusia untuk mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Di bidang ekonomi dan bisnis, hal tersebut berhubungan dengan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mrngikuti laju perkembangan dan laju kepekaan perusahaan-perusahaan tersebut terhadap perubahan yang terjadi di dunia bisnis. Oleh karena itu, faktor manusia dalam perusahaan harus dikelola baik untuk menunjang produktivitas perusahaan agar perusahaan dapat unggul dalam persaingan usaha.
Ruang lingkup sumber daya manusia, tugas manajemen sumber daya manusia berkisar pada upaya mengelola unsur manusia dengan segala potensi yang dimilikinya seefektif mungkin sehingga diperoleh sumber daya manusia yang puas( satified) dan memuaskan ( satifactoty) bagi organisasi. Terdapat tiga persfektif utama dalam pengembangan manajemen sumber daya manusia ini, yakni persfektif internaasional, nasional/ makro, dan mikro. Persfektif internasional atau makro adalah pengembangan atau pemamfaatan personil(pegawai) sebagai pencapaian yang efektif mengenai sasaran-sasaran dan tijuan-tujuan individu, ormas, nasional dan internasional. SEdangkan persfektif mikro adlah perencanaan pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai kebutuhan indivudu, organisasi dan masyarakat.
C. Pemecahan Masalah

1. Masalah Internal
a. Menyiapkan program operasional pada masing-masing didang
b. Pemantapan aparatur
c. Meningkatkan pelayanan pada tingkat dunia usaha
d. Meningkatkan manajemen sumber daya manusia bagi pekerja, pejabat dan aparatur.
e. Memperbaiki sisi mutu produk industri agar dapat bersaing dengan produk dari luar

2. Masalah Eksternal
a. Mengupayakan kelancaran arus barang dan bahan keperluan pokok dan strategis yang ditopang dengan sarana dan prasarana secara lintas sektoral
b. Mengadakan pameran promosi dalam rangka pemasaran produk industri untuk menunjang struktur daerah antara lain mampu bersaing dengan produk luar dengan harga yang wajar dan stabil
c. Peningkatan informasi tentang peluang pasar maupun potensi yang berpeluang ekspor kepada dunia usaha dan investor
d. Pengenalan teknologi tepat guna
e. Menumbuhkan wirausaha dan meningkatkan motovasi melalui program Achivement Motivation Training (AMT)
f. Mengadakan kerja sama dengan pemerintah daerah maupun industri terkait lainnya.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan


Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingku[p karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang ditentukan. Manusia merpakan factor penentu dalam kemajuan zaman. Hal tersebut harus diakui karenana perkembangan dunia sekarang ini adalah hasil dari pemikiran manusia untuk mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Di bidang ekonomi dan bisnis, hal tersebut berhubungan dengan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mrngikuti laju perkembangan dan laju kepekaan perusahaan-perusahaan tersebut terhadap perubahan yang terjadi di dunia bisnis. Oleh karena itu, faktor manusia dalam perusahaan harus dikelola baik untuk menunjang produktivitas perusahaan agar perusahaan dapat unggul dalam persaingan usaha
B. Saran
1. Diharapkan kepada Disperindag untuk lebih serius dalam melayani dan memberikan informasi kepada IKM.
2. Diharapkan kepada pelaku industri IKM supaya rajin mengikuti apabila ada pelatihan-pelatiahan tentang sumber daya manusia atau sejenisnya.
DAFTAR PUSTAKA


Jackson Susan.1999. Manajemen Sumber Daya Manusia. Erlangga: Jakarta
Adi Kwartono. 2007. Analisi Usaha Kecil dan Menengah, CV Andi Offset: Yogyakarta

pagi pagi,,

Bercanda dengan pagi,
yang langitnya masih erat dalam gulungan selimut,
tapi biar begitu,ia tetap menampakkan diri.
Yah,Pagi yg masih menyisakan sedikit malam terbagi,

,pagi yang langitnya berselimut,
seakan-akan nggak mood.:):)